28.5.11
|
By nee.Ya.nia
Hei hujan...
pergilah.
Jangan menoleh apalagi kembali.
pergi.
membencilah ...
gunakan bencimu untuk berlari.
Larilah yang jauh,
dan jangan terjatuh....
Larilah..,
berbahagialah..
Aku dan kaktus tidak jauh berbeda.. hanya menyakiti.
pergilah..
bencilah..
berbahagialah....
Aku dan kaktus serupa.. mampu bertahan di tengah gurun.
Jadi..
pergilah..
bencilah..
berbahagialah....
Lari yang jauh, temukan bahagiamu..
Lari yang kencang dengan seluruh kebencianmu.. habiskan seluruhnya.
Dan jangan terjatuh..
berjanjilah.. demi dirimu..
kumohon....
Aku dan kaktus serupa..
tak menyalahkan daun berwujud duri...
tak menyimpan dendam pada gurun...
Akulah kaktus abu-abu,
mengering dalam diam.
Read More..
28.5.10
|
By nee.Ya.nia
Pas buka fesbuk, ada 1 pesan baru, liat subjectnya hm,, menarik..! penasaran, langsung deh ku baca : Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ....
Habis baca langsung terharu.. romantis sekali.. :) ,, langsung searching ke om gugel pengen tau sumbernya.. benarkah Pak Habibie yang nulis puisi ini?? ternyata eh ternyata,, menurut beberapa sumber puisi ini bukan tulisan beliau,, melainkan karya dari pengagum berat beliau (konfirmasi bisa di lihat di sini : http://www.facebook.com/habibiecenter#!/habibiecenter?v=wall) salah satu wall di sana menyebutkan penulis sebenarnya.
Terlepas dari itu semua (siapa penulis sebenarnya.red),, saya hanya ingin menyampaikan apresiasi saya terhadap puisi yang indah ini.. :)
Read More..
27.3.10
|
By nee.Ya.nia

jika tlah terlalu lelah...
rehatlah...
untuk itu tuhan ciptakan malam...
bahkan Ia tidak memaksa...
jadi akupun tidak
aku mengerti jika kau ingin berhenti
karang saja kikis...
apalagi hati...
tak perlu membohongi diri
Read More..
15.1.10
|
By nee.Ya.nia
hh..
bisakah aku bertahan dengan cinta yang seperti ini......
yakinkah aku ini cinta?
aku sanggup menunggumu..
tapi benarkah kau yang ku tunggu...
bukan,,sudikah kau ku tunggu...
ah,, sepertinya aku pun tahu jawabannya...masih bertanya!!!
tersiksa,
aku sanggup menyimpan semuanya dengan segala perih..
sepertinya lama-lama aku mulai mati rasa..
aku harap perasaanku padamu pun ikut membeku..
lebih baik tak mencintaimu, lebih baik tak bertemu denganmu,
tapi merasakan angin yang sama denganmu,,
menghirup udara yang sama denganmu,, melihat bulan yang sama denganmu...
berdiri di bawah langit yang sama denganmu...
ah.. aku tak tahan... tak bisa bila tak rindu..
kebodohan macam apa ini...
Read More..